Susah sekali untuk mengawali postingan ini karena banyak sekali yang ingin saya katakan disini, tapi saya mencoba untuk singkat. Jika ada pertanyaan, siapa yang suka menjemput atau mengantar teman-teman pulang? siapa yang suka kentut sambil nebar-nebar parfum? siapa yang suka teriak-teriak "EEEY... EEEY" atau "ASEEK ASEEK" atau "SEPIIK SEPIIK" dan lain-lain? atau yang paling berkaitan dengan saya, siapa yang pertama kali saya dan Prathito kenal di kelas XA dan mencalonkan kami pertama kali menjadi ketua kelas di XA? Muhammad Ananda Mita Harirama mungkin jawaban yang paling tepat.
Pertama kali saya mengenalnya ketika masa orientasi siswa, hari senin pada bulan juni dua tahun silam. Ketika itu saya dan Prathito sedang mendiskusikan hal yang berkaitan dengan SARA (suku, ras, agama). tiba-tiba sayapun ketakutan karena dibelakang saya ada seorang anak bermuka cina yang seperti dari SMP Penabur. Namun saya salah, dia bukan cina setelah saya mengenalnya lebih dekat. Dan dia ternyata seorang Muslim. Bagaimana dia bisa menjadi orang yang saya dan Prathito pertama kali kenal di kelas XA? Waktu itu kami sangatlah ansos (anti-sosial). Ketika kelas sedang diam, kita sering tertawa-tawa sendiri, menertawakan Dana Internasional, atau gambar orang tua salah satu teman di buku saya. Lalu di meja sebelah saya, Utha dan Ian, teman sebangkunya, tertawa-tawa geli melihat kami. Kami menarik perhatian rupanya. Di hari yang sama, dia juga mencalonkan saya dan Prathito sebagai ketua kelas dan wakilnya, hingga akhirnya kami terpilih. Utha merupakan pribadi yang lucu, baik, ramah, dan jahil. Saya mudah sekali untuk akrab dengannya. Hingga suatu hari, di ruang musik, saya, Utha, Thito, Zeta, Dwi, dan Rara, membentuk sebuah geng, Geng Cina namanya. Kami merupakan kelompok khusus dan (berlagak) elit yang berwajah (sok) cina (padahal bukan) dan memiliki moto 'Cina Bukan Sekedar Impian'. Kerapkali kami bercanda bersama, bermain bersama, atau melakukan drama bersama, tentunya drama cina. Pada waktu senggang pun, kelas XA juga suka melakukan jalan-jalan atau makan-makan bersama. Dan pada saat itulah, Utha dan mobil birunya menjadi andalan. Mobil itulah yang selalu mengangkut belasan teman-temannya keliling Jakarta, bahkan keluar kota. Tanpa dia, pasti tidak akan ada 'Jalan Bareng XA'
Itu merupakan kenangan dua tahun lalu. Begitu kelas XI, saya sudah tidak sekelas lagi. Mungkin ketemu jika di koridor sekolah, atau di acara ulang tahun teman. Jarang sekali, yang saat ini amat saya sesali. Begitupula kelas XII ini, namun kelas kami bersebelahan, jadi lebih sering bertemunya. Hingga akhirnya pada ulang tahun Rara, Geng Cina akhirnya bisa melakukan reuni, lengkap tanpa kurang seorangpun. Mungkin saat itulah saya terakhir berkomunikasi dan bercanda dengannya.
Hingga pada jumat kemarin, Thito menelepon ke rumah saya (karena baterei HP saya habis dari malam harinya). Tanpa basa-basi, Thito memberitakan saya bahwa Utha telah berpulang ke Tuhan YME, meninggal. "Hah, siapa yang meninggal!?" balasku keras. "Utha, Utha XA". Hati saya kosong, sekosong kosongnya. Tidak tahu harus berpikir apa. Saya bergegas melayat kerumahnya, yang dipenuhi banyak teman-temannya. Saya benar-benar kosong, kosong, tidak bisa tersenyum, sedih, namun tidak menangis. Rumahnya hari itu dibanjiri tangisan teman-temannya yang selalu mengatakan kurang lebih, "Dia baik banget... kenapa harus secepat ini?". Memang ini terlalu cepat hingga saya pun berpikir berulang kali, "apakah hari ini saya mimpi?"
Sampai hari inipun saya masih berpikir apakah kemarin hanya bermimpi. Sayangnya tidak. Kemarin merupakan hari yang amat buruk, dan itu nyata. Terbesit di benak saya, "kenapa harus dia? dia baik sekali, masih muda, masih memiliki cita-cita, kenapa harus sekarang?" Namun teman saya, Sidqi, beritahu pada Thito sebuah peribahasa, yang kebetulan terdengar saya,
Buah jika sudah matang harus dipetik, Kalau terlalu lama nanti jadi busuk.
Betapa tertohoknya hati saya mendengar peribahasa itu, Mungkin Utha sudah 'matang', sudah siap jasmani rohani, sudah siap 'dipetik' Allah SWT, saya rasa. Dia tidak pernah meninggalkan sedikitpun dendam dan kebencian di hati saya, atau mungkin, seluruh teman-temannya. Namun apa daya, kami hanya bisa mengikhlaskannya.
Pada akhir kata,saya hanya bisa berkata: Utha, jasamu akan selalu dikenang. Kebaikan yang kau tanam, pasti akan kau petik hasilnya. Engkau akan selalu teringat di hati kita semua. Peribahasa mengatakan,
Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang
Selamat tinggal, Sang Gajah.......

Dari kiri ke kanan, Zeta, Rara, Saya (Torik), Prathito, Dwi, dan Alm. Utha. Diambil di acara ulang tahun Rara.



